animasi

Rabu, 07 Maret 2012

Perkembangan Kehidupan Negara-negara Kerajaan Islam di Indonesia

Perkembangan Kehidupan Negara-negara Kerajaan Islam di Indonesia

A.     Samudra Pasai











1.      Tahun Berdiri : abad ke 13
2.      Lokasi : Terletak di Pantai Utara Aceh, pada muara sungai Psangan (Pasai)
3.      Wilayah Kekuasaan : Wilayah kekuasaan Kesultanaan Samudera Pasai pada masa kejayaannya terletak di daerah yang diapit dua sungai besar di Pantai utara Aceh, yaitu Sungai Peusangan dan Sungai Pasai. Daerah kekuasaan Kesultanan Samudera Pasai tersebut juga meliputi Samudera Geudong (Aceh Utara), Meulaboh, Bireuen, serta Rimba Jreum dan Seumerlang (Perlak).
4.      Pendiri : Nazimudin al Kamil
5.      Raja Pertama : Marah Silu dengan gelar Sultan Malik al Saleh
6.      Raja Yang Terkenal : Sultan Malik Al Saleh
7.      Kehidupan Politik : Samudra  Pasai  berkembang  dengan  cepat menjadi pusat perdagangan dan pusat studi Islam yang ramai.
8.      Kehidupan Ekonomi : Hasil pertanian yang menjadi komoditi ekspor, yakni lada. Akhirnya berkembang menjadi pusat perdagangan
9.      Kehidupan Sosial Budaya: kehidupan masyarakatnya diwarnai dengan semangat kebersamaan dan hidup saling menghormati sesuai dengan syariat Islam..
10.  Sumber Sejarah :a. Inskripsi (tulisan) pada nisan makam Sultan Malik Al Saleh.
                                           b. Berita – berita asing dari MarcoPolo dan Ibnu Battutah.
                                           c. Kronik Raja Pasai.
11.  Peninggalan Sejarah : a. Makam Sultan Malik Al-Saleh
                                               b. Makam Sultan Muhammad Malik Al- Zahir
                                              






B.     Malaka









1.      Tahun Berdiri : abad ke 15
2.      Lokasi : Selat Malaka
3.      Wilayah Kekuasaan :
a.       Semenanjung Tanah Melayu (Patani, Ligor, Kelantan, Trenggano, dsb).
b.      Daerah Kepulauan Riau
c.       Pesisir Timur Sumatra bagian tengah.
d.      Brunai dan Serawak.
e.       Tanjungpura (Kalimantan Barat).
Sedangkan daerah yang diperoleh dari Majapahit secara diplomasi adalah sebagai berikut.
a.       Indragiri
b.       Palembang
c.       Pulau Jemaja, Tambelan, Siantan, dan Bunguran.
4.      Pendiri : Parameswara/ Iskandar Syah (putra Raja Sam Agi-Sriwijaya)
5.      Raja Pertama : Parameswara/ Iskandar Syah
6.      Raja Yang Terkenal : Sultan Mansyur Syah (1459—1477)
7.      Kehidupan Politik : menganut paham politik hidup berdampingan secara damai (co-existence policy), dilakukan melalui hubungan diplomatik dan ikatan perkawinan, dilakukan untuk menjaga keamanan internal dan eksternal Malaka. Dua kerajaan besar pada waktu itu yang harus diwaspadai adalah Cina dan Majapahit. Maka, Malaka kemudian menjalin hubungan damai dengan kedua kerajaan besar ini. Parameswara kemudian menikah dengan salah seorang putri Majapahit.
Penerus Parameswara yaitu Sultan Mansyur Syah (1459—1477) yang memerintah pada masa awal puncak kejayaan Kerajaan Malaka juga menikahi seorang putri Majapahit sebagai permaisurinya. Di samping itu, hubungan baik dengan Cina tetap dijaga dengan saling mengirim utusan. Pada tahun 1405 seorang duta Cina Ceng Ho datang ke Malaka untuk mempertegas kembali persahabatan Cina dengan Malaka. Dengan demikian, kerajaan-kerajaan lain tidak berani menyerang Malaka.
Pada tahun 1411, Raja Malaka balas berkunjung ke Cina beserta istri, putra, dan menterinya. Seluruh rombongan tersebut berjumlah 540 orang. Sesampainya di Cina, Raja Malaka beserta rombongannya disambut secara besar-besaran. Ini merupakan pertanda bahwa, hubungan antara kedua negeri tersebut terjalin dengan baik. Saat akan kembali ke Malaka, Raja Muhammad Iskandar Syah mendapat hadiah dari Kaisar Cina, antara lain ikat pinggang bertatahkan mutu manikam, kuda beserta sadel-sadelnya, seratus ons emas dan perak, 400.000 kwan uang kertas, 2600 untai uang tembaga, 300 helai kain khasa sutra, 1000 helai sutra tulen, dan 2 helai sutra berbunga emas. Dari hadiah-hadiah tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa, dalam pandangan Cina, Malaka adalah kerajaan besar dan diperhitungkan.
Di masa Sultan Mansur Syah, juga terjadi perkawinan antara Hang Li Po, putri Maharaja Yung Lo dari dinasti Ming, dengan Sultan Mansur Shah.
8.      Kehidupan Ekonomi : Posisi Malaka yang sangat strategis menyebabkannya cepat berkembang dan menjadi pelabuhan yang ramai.
9.      Kehidupan Sosial Budaya: Malaka Sebagai Pusat Penyebaran Agama Islam
Sebelum muncul dan tersebarnya Islam di Semenanjung Arabia, para pedagang Arab telah lama mengadakan hubungan dagang di sepanjang jalan perdagangan antara Laut Merah dengan Negeri Cina. Berkembangnya agama Islam semakin memberikan dorongan pada perkembangan perniagaan Arab, sehingga jumlah kapal maupun kegiatan perdagangan mereka di kawasan timur semakin besar.
Pada abad VIII, para pedagang Arab sudah banyak dijumpai di pelabuhan Negeri Cina. Diceritakan, pada tahun 758 M, Kanton merupakan salah satu tempat tinggal para pedagang Arab. Pada abad IX, di setiap pelabuhan yang terdapat di sepanjang rute perdagangan ke Cina, hampir dapat dipastikan ditemukan sekelompok kecil pedagang Islam. Pada abad XI, mereka juga telah tinggal di Campa dan menikah dengan penduduk asli, sehingga jumlah pemeluk Islam di tempat itu semakin banyak. Namun, rupanya mereka belum aktif berasimilasi dengan kaum pribumi sehingga penyiaran agama Islam tidak mengalami kemajuan.
Sebagai salah satu bandar ramai di kawasan timur, Malaka juga ramai dikunjungi oleh para pedagang Islam. Lambat laun, agama ini mulai menyebar di Malaka. Dalam perkembangannya, raja pertama Malaka, yaitu Prameswara akhirnya masuk Islam pada tahun 1414 M. Dengan masuknya raja ke dalam agama Islam, maka Islam kemudian menjadi agama resmi di Kerajaan Malaka, sehingga banyak rakyatnya yang ikut masuk Islam.
Selanjutnya, Malaka berkembang menjadi pusat perkembangan agama Islam di Asia Tenggara, hingga mencapai puncak kejayaan di masa pemeritahan Sultan Mansyur Syah (1459—1477). Kebesaran Malaka ini berjalan seiring dengan perkembangan agama Islam. Negeri-negeri yang berada di bawah taklukan Malaka banyak yang memeluk agama Islam. Untuk mempercepat proses penyebaran Islam, maka dilakukan perkawinan antarkeluarga.
Malaka juga banyak memiliki tentara bayaran yang berasal dari Jawa. Selama tinggal di Malaka, para tentara ini akhirnya memeluk Islam. Ketika mereka kembali ke Jawa, secara tidak langsung, mereka telah membantu proses penyeberan Islam di tanah Jawa. Dari Malaka, Islam kemudian tersebar hingga Jawa, Kalimantan Barat, Brunei, Sulu dan Mindanau (Filipina Selatan).
Malaka runtuh akibat serangan Portugis pada 24 Agustus 1511, yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque. Sejak saat itu, para keluarga kerajaan menyingkir ke negeri lain.
Malaka runtuh akibat serangan Portugis pada 24 Agustus 1511, yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque














































C.     Aceh Darussalam
1.      Tahun Berdiri : abad ke 16
2.      Lokasi : Aceh, SUMUT
3.      Wilayah Kekuasaan : Wilayah kekuasaan Kesultanaan Aceh dari Deli hingga Semenanjung Malaka
4.      Pendiri : Sultan  Ali  Mughayat  Syah
5.      Raja Pertama : Sultan  Ali  Mughayat  Syah
6.      Raja Yang Terkenal : Sultan Iskandar Muda
7.      Kehidupan Politik : Kerajaan Aceh mengalami puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607–1636). Ia bercita-cita untuk menjadikan Aceh sebagai kerajaan besar dan kuat. Untuk itu, kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaka harus ditaklukkan, seperti Pahang, Kedah, Perlak, Johor dan sebagainya.
Kerajaan Aceh berkembang pesat pada masa kepemimpinan sultan Iskandar Muda sebab sebagian besar pedagang-pedagang Islam dari Malaka pindah ke Aceh. Bandar Aceh dibuka menjadi Bandar international dengan jaminan pengamanan gangguan laut dari kapal perang portugis.
Setelah Sultan Iskandar Muda meninggal digantikan oleh menantunya yaitu sultan Iskandar Tani kemudian digantikan oleh permaisurinya Syafi’atuddin (putrid Sultan Iskandar Muda)
8.      Kehidupan Ekonomi : . Penguasaan Aceh atas daerah-daerah pantai barat dan timur Sumatra banyak menghasilkan lada. Semenanjung Malaka banyak menghasilkan lada dan timah. Hal ini menjadi bahan ekspor yang penting bagi Aceh sehingga perdagangan Aceh maju dengan pesat.
9.      Kehidupan Sosial Budaya:
-          Penyusunan UU tentang tata pemerintahan (Adat Makuta Alam)
-          Muncul dua golongan yang saling berebut pengaruh, yakni golongan teuku dan golongan tengku. Golongan teuku adalah kaum bangsawan yang memegang kekuasaan sipil. Adapun golongan tengku adalah kaum ulama yang memegang peranan penting dalam bidang agama. Di antara golongan agama sendiri juga ada persaingan, yakni antara aliran Syiah dan aliran Sunnah wal Jama'ah.
-          Pada masa Sultan Iskandar Muda, aliran Syiah berkembang pesat. Tokoh aliran ini ialah Hamzah Fansuri yang kemudian diteruskan oleh Syamsuddin Pasai.
-          Setelah Sultan Iskansar Muda meninggal, aliran Sunnah wal Jama'ah yang dapat berkembang pesat. Tokoh aliran ini ialah Nuruddin ar Raniri.
-          Di bidang budaya terlihat dari adanya bangunan Masjid Baitturachman yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.
10.  Sumber Sejarah:
11.  Peninggalan Sejarah :  Manuskrip Bustanussalatin (Taman Segala Raja à ttg adat istiadat suku aceh dan ajaran agama Islam)
Penyebab runtuhnya aceh :
1.    Kekalahan aceh melawan portugis di malaka dalam perang tahun 1629 membawa korban jiwa dan harta benda serta kapal-kapal yang cukup besar.
2.    Tidak adanya tokoh yang cakap memerintah sepeninggal Sultan Iskandar Muda
3.    Daerah-daerah taklukan yang jauh dari pemerintah pusat mulai melepaskan diri dari pengaruh Aceh, seperti Johor, Perlak, Pahang, Minangkabau, dan Siak.





D.    Demak
1.      Tahun Berdiri : abad ke 15
2.      Lokasi : Demak, JaTeng
3.      Wilayah Kekuasaan : Jawa
4.      Pendiri : Raden Patah
5.      Raja Pertama : Raden Patah
6.      Raja Yang Terkenal : Sultan Trenggono
7.      Kehidupan Politik :
1)Raden Patah (1475–1518) à putra Brawijaya V (Raja Majapahit terakhir)  dengan putri Campa
- Pendiri kerajaan Islam Pertama di Jawa
- Raden Patah semula diangkat
- Menjadi bupati oleh Kerajaan Majapahit di Bintoro Demak dengan gelar Sultan Alam Akhbar al Fatah.
- Sunan Kalijaga banyak memberikan saran-saran sehingga Demak berkembang menjadi kerajaan teokrasi
2)Sultan Trenggono (1521–1546).
- Raden Patah digantikan oleh Adipati Unus/Pangeran Sabrang Lor (gelar yang diterima sebab pernah mengadakan serangan ke utara/Malaka).
- Adipati Unus meninggal tanpa meningalkan putra sehingga seharusnya digantikan oleh adiknya, Pangeran Sekar Seda Lepen. Akan tetapi, pangeran ini dibunuh oleh kemenakannya sehingga yang menggantikan takhta Demak adalah adik Adipati Unus yang lain, yakni Pangeran Trenggono. Ia setelah naik takhta Demak bergelar Sultan Trenggono.
- Di bawah pemerintahan Sultan Trenggono, Kerajaan Demak mencapai puncak kejayaannya. Wilayah kekuasaannya sangat luas, meliputi Jawa Barat (Banten, Jayakarta, dan Cirebon), Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur. Tindakan-tindakan penting yang pernah dilakukan Sultan Trenggono adalah sebagai berikut:
   a) Menegakkan agama Islam;
   b) Membendung perluasan daerah yang dilakukan oleh Portugis;
c) Menguasai dan mengislamkan Banten, Cirebon, dan Sunda Kelapa (Perluasan ke wilayah Jawa Barat ini dipimpin oleh Fatahilah (Faletehan) yang kemudian menurunkan raja-raja Banten).
d) Berhasil menakhlukkan Mataram, Singasari, dan Blambangan.
8.      Kehidupan Ekonomi : . Dilihat dari segi ekonomi, Demak sebagai kerajaan maritim, menjalankan fungsinya sebagai penghubung atau transit daerah penghasil rempah-rempah di bagian timur dengan Malaka sebagai pasaran di bagian barat. Perekonomian Demak dapat berkembang dengan pesat di dunia maritim karena didukung oleh penghasil dalam bidang agraris yang cukup besar.
9.      Kehidupan Sosial Budaya: Kehidupan sosial Demak diatur oleh  hukum-hukum Islam, namun juga masih menerima tradisi lama. Dengan demikian, muncul sistem kehidupan sosial yang telah mendapat pengaruh Islam.
adanya pembangunan Masjid Agung Demak yang terkenal dengan salah satu tiang utamanya terbuat dari kumpulan sisa-sisa kayu yang dipakai untuk membuat masjid itu sendiri yang disebut soko tatal. Di pendapa (serambi depan masjid) itulah Sunan Kalijaga (pemimpin pembangunan masjid) meletakkan dasar-dasar syahadatain (perayaan Sekaten). Tujuannya ialah untuk memperoleh banyak pengikut agama Islam. Tradisi Sekaten itu sampai sekarang masih berlangsung di Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon. Penyusunan UU tentang tata pemerintahan (Adat Makuta Alam)
-          Muncul dua golongan yang saling berebut pengaruh, yakni golongan teuku dan golongan tengku. Golongan teuku adalah kaum bangsawan yang memegang kekuasaan sipil. Adapun golongan tengku adalah kaum ulama yang memegang peranan penting dalam bidang agama. Di antara golongan agama sendiri juga ada persaingan, yakni antara aliran Syiah dan aliran Sunnah wal Jama'ah.
-          Pada masa Sultan Iskandar Muda, aliran Syiah berkembang pesat. Tokoh aliran ini ialah Hamzah Fansuri yang kemudian diteruskan oleh Syamsuddin Pasai.
-          Setelah Sultan Iskansar Muda meninggal, aliran Sunnah wal Jama'ah yang dapat berkembang pesat. Tokoh aliran ini ialah Nuruddin ar Raniri.
-          Di bidang budaya terlihat dari adanya bangunan Masjid Baitturachman yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.
10.  Sumber Sejarah:
11.  Peninggalan Sejarah :  Manuskrip Bustanussalatin (Taman Segala Raja à ttg adat istiadat suku aceh dan ajaran agama Islam)


E.     Banten
1.      Muncul dan berkembangnya kerajaan Banten


2.      Ciri-ciri pokok sistem dan struktur sosial masyarakat di kerajaan-kerajaan bercorak Islam  di berbagai daerah


3.      Wilayah kekuasaan kerajaan-kerajaan Islam di berbagai daerah


4.      Struktur birokrasi, hubungan pusat daerah, dan hukum di kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam


F.      Mataram Islam
1.      Muncul dan berkembangnya kerajaan Mataram Islam


2.      Ciri-ciri pokok sistem dan struktur sosial masyarakat di kerajaan-kerajaan bercorak Islam  di berbagai daerah


3.      Wilayah kekuasaan kerajaan-kerajaan Islam di berbagai daerah


4.      Struktur birokrasi, hubungan pusat daerah, dan hukum di kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam


G.    Gowa & Tallo
1.      Muncul dan berkembangnya kerajaan Gowa & Tallo


2.      Ciri-ciri pokok sistem dan struktur sosial masyarakat di kerajaan-kerajaan bercorak Islam  di berbagai daerah


3.      Wilayah kekuasaan kerajaan-kerajaan Islam di berbagai daerah


4.      Struktur birokrasi, hubungan pusat daerah, dan hukum di kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam


H.    Ternate & Tidore
1.      Muncul dan berkembangnya kerajaan Ternate & Tidore


2.      Ciri-ciri pokok sistem dan struktur sosial masyarakat di kerajaan-kerajaan bercorak Islam  di berbagai daerah


3.      Wilayah kekuasaan kerajaan-kerajaan Islam di berbagai daerah


4.      Struktur birokrasi, hubungan pusat daerah, dan hukum di kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam

0 komentar:

Poskan Komentar